Selasa, 09 Februari 2010 15:35:59
JOGJA: Remaja minim informasi pendidikan seks yang benar. Psikolog pengembangan kepribadian remaja Ratih Ibrahim mengatakan, hampir 1.000 siswa di seluruh Indonesia masih mendapatkan informasi seks yang keliru, Selasa (9/2).
"Hanya 2% yang mendapat informasi benar. Mereka hanya mendapat dari teman. Selain faktor kesibukan orang tua, anak-anak masih sungkan untuk konsultasi dengan mereka," ujar Ratih dalam I Know Campaign Kotek di SMPN 5 Jogja.
Banyaknya mitos-mitos yang beredar di kalangan remaja tentang seks menjadi contoh kekeliruan informasi seks.
Ratih mengungkapkan dalam kurikulum anak kelas 5 dan 6 SD telah ada materi pendidikan seks, tetapi guru ragu untuk menyampaikan karena masih dianggap tabu. Ia menekankan informasi di internet bukan sumber informasi yang tepat untuk remaja.
Sheila Shafira, siswi kelas VIII SMPN 5 Jogja menuturkan keterbatasannya konsultasi masalah seks dengan orang tuanya. Ulayya G. Tirani pun mendapatkan beragam informasi dari majalah-majalah.
"Gimana ya, kalau sama teman-teman lebih terbuka. Kalau sama orangtua malah dibilangin belum waktunya ngomongin hal itu,” papar Sheila.
Dokter Boy Abidin, ginekolog reproduksi remaja, mengungkapkan remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka bisa menyinpang jika tidak diberikan informasi yang benar. Boy memberikan contoh berupa seks pranikah, aborsi, AIDS, dan pelecehan seksual di Indonesia yang semakin meningkat.
"Cara penyampaiannya yang tidak tepat, remaja jadi salah tangkap akan informasi itu. Jangan anggap remeh anak SMP loh,” tutur Boy.
Pendidikan seks harus telah diajarkan bahkan sejak bayi dalam kandungan. Menurut Ratih, dengan perbedaan perlakuan terhadap bayi laki-laki dan perempuan sejak lahir telah termasuk pendidikan seks.
"Sejak dalam kandungan telah diketahui jenis kelaminnya, pas lahir mereka dikasih nama, diberi baju dan perlakuan sesuai jenis kelamin, itu udah pendidikan seks,” tambah Ratih.
Endang Sayekti, pengajar SMPN 5 Jogja mengatakan rasa sayangnya mengetahui banyak masalah seks dini yang dilakukan anak sekolah dilingkungan pendidikan.
Tidak adanya ada kurikulum pendidikan mengenai seks edukasi membuat guru menyelipkan pengajaran tentang seks dalam pelajaran dengan sangat hati-hati dan tidak vulgar.
"Seharusnya pemerintah segera membuat pendidikan seks menjadi kurikulum,” saran Endang.
Pendidikan seks hanya diajarkan dalam mata pelajaran IPA. "Itu pun hanya masalah reproduksi. Tidak diajarkan bagaimana masalah-masalah yang akan mereka hadapi atau penyimpangan-penyimpangan yang terjadi,” tambah Endang. (Harian Jogja/ Kiky Amalia)
