Siswa minta Kepsek SMP Muh 10 mundur
Sabtu, 06 Februari 2010 09:42:51
2010020694251_demo.jpg

JOGJA: Sekitar 100 siswa SMP Muhammadiyah 10 Jogja, yang tergabung dalam geng sekolah bernama Gamzta, Jumat (5/2), sekitar pukul 11.00 WIB, menuntut mundur kepala sekolahnya.

Tuntutan tersebut dilontarkan lantaran pihak sekolah dinilai menerapkan peraturan yang terlalu ketat yang dianggap merugikan mereka.

Karena peraturan tersebut, dua guru dan tiga siswa dikeluarkan dari sekolah.

Tuntutan mundur yang dilakukan dengan aksi demo itu diikuti para siswa kelas IX – XII. Sejumlah alumni SMP Muhammadiyah 10 pun turut ambil bagian dalam aksi tersebut.

Kepala sekolah SMP Muhammadiyah 10, Endra Widyarso, mengatakan protes siswa itu disebabkan peraturan yang diterapkan di sekolah kini lebih ketat. Selain menerapkan sistem setiap pelanggaran dihitung poin, sekolah tidak ragu mengeluarkan siswa.

“Anak-anak kaget, dulu tata terbit agak longgar. Hanya kaget saja sekarang lebih ketat,” katanya menanggapi protes anak didiknya.

Menurut dia, peraturan yang disusunnya didasarkan pada Peraturan Walikota Jogja No 24/2008 tentang pedoman tata tertib sekolah dan sesuai aturan yayasan Muhammadiyah. Aturan itu juga disetujui siswa dan wali murid.

Sedangkan kebijakan mengeluarkan tiga siswa dan dua guru honorer sejak menjabat pada Oktober 2009 lalu, menurut Endra sudah didasarkan pada tata tertib sekolah. Di SMP Muhammadiyah 10 sendiri beredar isu yang menyebutkan guru honorer olahraga yang sekarang masih mengajar akan dikeluarkan. Namun, Endra membantahnya. “Itu belum pernah terpikirkan,” katanya.

Sedangkan Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Jogja, Ibnu Marwanto, menilai aksi siswa itu hanya dinamika sekolah. Termasuk model kepemimpinan kepala sekolah itu merupakan gaya individu.

Ibnu menegaskan, 56 sekolah Muhammadiyah di Kota Jogja diawasi perserikatan Muhammadiyah, termasuk gaya orang di masing-masing sekolah tersebut. “Indikasi awal ada yang ngipasi (provokator). Tapi kami masih mempelajari motif aksi ini,” katanya saat ditemui di SMP Muhammadiyah 1.

Siswa SMP Muhammadiyah 10 sendiri sudah merencanakan aksi unjuk rasa ini sejak Kamis (4/2).

Hanya aksi itu urung dilakukan. Kemudian Jumat (5/2) pagi, siswa yang berkumpul di depan sekolah sejak pukul 07.00 WIB juga dibubarkan polisi.

Para siswa yang rata-rata kelas IX itu kemudian masuk ke kawasan sekolah namun tidak mau mengikuti pelajaran.

“Setelah diberi pengertian, bagi yang ingin lulus harus masuk kelas, siswa kemudian bersedia ikut TPM (tes pendalaman materi) dan masuk kelas,” urai guru bimbingan konseling SMP Muh 10, Tutik Surati.

Pada saat siswa kelas IX masuk ruangan belajar, siswa kelas VII yang sedang libur sekolah masih berkumpul di luar sekolah. Mereka mengaku menunggu teman sekolah lainnya untuk melakukan aksi unjuk rasa bersama.

Selama unjuk rasa, siswa laki-laki mengendarai motor di depan sekolah, lalu lalang sembari meraungkan kendaraannya. Dua siswa pengendara sepeda motor sempat terjatuh saat aksi konvoi, namun tidak mengalami cedera.

Sedangkan siswa perempuan bergerombol di tiga titik di depan sekolah. Sesekali mereka mendukung konvoi dengan sorak sorai dan teriakan meminta kepala sekolah mundur.

Aksi unjuk rasa itu sempat berlangsung lebih dari 30 menit. Sebelumnya, anjuran beberapa guru sekolah ini pun tidak mempan membubarkan mereka.

Oleh Miftahul Ulum
HARIAN JOGJA

KOMENTAR PEMBACA
  1. luluk karina candra

    2010-02-07 13:45:59
    aku bakal dkung ap yg klian lkukan . aku gg trima klo gru" muh10 d'kluarin . aku sbg alumni 2009 , tag rela!!

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar