Ayam Tiren masih marak di Jogja
Jum'at, 05 Februari 2010 12:19:00
20100205121900_tiren.jpg

JOGJA: Kota Jogja belum bebas dari peredaran ayam mati kemarin (Tiren).

Dalam dua hari terakhir, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja mengungkap penjualan ayam Tiren di tiga lokasi berbeda.

Pada Rabu (3/2), Disperindagkoptan mendapati 11 ekor ayam Tiren dijual di dua lokasi berbeda, yakni lima potong di Pasar Terban dan enam potong di rumah pemotongan ayam Jalan Beji, Sayidan.

Pedagang ayam Tren di Pasar Terban adalah pelaku baru sedangkan pedagang di Jalan Beji merupakan pelaku lama.

Kepala Bidang (Kabid) Pertanian Disperindagkoptan Kota Jogja, Sri Harnani mengungkapkan, Disperindagkoptan sebelumnya telah menemukan penjualan ayam Tiren di Jalan Beji dan memperingatkan pedagangnya. Tetapi ternyata masih ada pedagang yang menjual ayam Tiren.

“Dulu sudah kami peringatkan. Tapi ternyata tidak diindahkan, sehingga kemarin kami langsung berkoordinasi dengan Poltabes Jogja menangani pedagang di Jalan Beji. Sementara, pedagang di Pasar Terban baru sekali ini kedapatan menjual ayam Tiren dan kami hanya memberi surat peringatan. Jika masih membandel, kami akan bertindak tegas,” terangnya di Pasar Beringharjo, Kamis (4/2).

Dia mengambahkan, selain temuan itu, satu pedagang ayam Tiren di Pasar Beringharjo terancam izin usahanya. Pasalnya, pedagang itu kembali diketahui menjual ayam Tiren. Pada Kamis (4/2), Tentrem, penjual ayam di Pasar Beringharjo tertangkap tangan tengah menjual lima potong ayam kampung Tiren. Tentrem merupakan pedagang yang telah berkali-kali menjual ayam Tiren. “Bukan sekali ini saja dia menjual ayam Tiren. Kami meminta Dinas Pengelolaan Pasar untuk menindak tegas karena perbuatannya meresahkan,” ungkapnya.

Kepala Seksi Pengawasan Mutu Komoditas dan Kesehatan Hewan Disperindagkoptan Kota Jogja, Endang Finiarti menjelaskan, baik berdasar pengamatan fisik maupun tes kimia, lima potong ayam yang dijual Tentrem terbukti ayam Tiren.

Menurut dia, hal itu terlihat dari daging yang berwarna lebih gelap daripada daging ayam yang mati karena dipotong, bau amis yang menguar dari daging, sayatan di leher tidak rata, serta adanya gumpalan darah di sekitar sayap.

“Berdasar tes kimia, daging itu memang terbukti ayam Tiren seperti yang kami temui di Pasar Terban dan Jalan Beji kemarin. Daging ayam Tiren sangat berbahaya jika dikonsumsi karena mengandung kuman yang terdapat pada bangkai,” terangnya.

Selain itu, harga daging yang dijual Tentrem tergolong murah. Satu kilogram ayam dihargai Rp22.000 padahal harga normal tiap kilogram daging ayam mencapai Rp30.000.

Lurah Pasar Beringharjo, Madiyono menuturkan Tentrem tergolong pedagang ayam Tiren kambuhan. Menurut dia, Tentrem mulai berjualan di emperan Beringharjo pada 2005, dua tahun kemudian dia bersama enam pedagang lain kedapatan sering menjual ayam Tiren.

“Saya tanting [tantang] mereka. Jika mau berjualan dengan benar, tidak lagi menjual barang macam-macam, dia bisa dapat los. Tapi setelah dapat los, dia masih juga menjual ayam Tiren. Kami akan mencabut izin berjualannya. Perbuatannya tidak lagi dapat ditoleransi,” katanya.

Si penjual ayam, Tentrem, membantah daging yang dijualnya dikatakan ayam Tiren. Dia mengaku membeli ayam kampung yang masih hidup dari Pasar Imogiri, Bantul. Ayam itu dalam kondisi sakit dan langsung dipotong dan dijual.

Oleh Budi Cahyana
HARIAN JOGJA

KOMENTAR PEMBACA

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar