Belajar menikmati makanan sehat
Minggu, 24 Januari 2010 09:02:39
2010012490239_klangenan.jpg

Sadar atau tidak anak-anak sekarang ini besar dalam budaya fast food [makanan cepat saji]. Tinggal goreng atau seduh dalam hitungan menit, sekejap itupula makanan itu masuk ke dalam perut anak-anak kita. Semua minta yang cepat, lezat dengan harga yang terjangkau.

Tidak terpikirkan lagi proses pembuatan, bahan apa saja yang digunakan, bahkan bagaimana kandungan gizi yang ada di dalam makanan tersebut. Budaya ini pun tak pelak menggeser momen kebersamaan keluarga, khususnya saat memasak menjadi tidak terlalu penting.

Untuk itulah, komunitas Slow Food Jogja terbentuk dan mendeklarasikan diri pada 5 Januari 2010 di Bale Triputro Winahyu, Jombor Lor Sleman. Komunitas ini berangan-angan menjadi antitesis dari restoran cepat saji. Harapannya budaya fast food dikembalikan menjadi slow food.

Anggota komunitas yang diprakarsai oleh Murdijati Gardjito, Amaliah, Agnes Murdiati dan Wednes Arya memang belum terlalu banyak, yakni sekitar 25-an orang. Mereka terdiri dari berbagai kalangan, seperti budayawan, akademisi, media dan bahkan pengusaha kuliner Jogja, yang ternyata juga tertarik untuk bergabung dalam komunitas ini.

“Bahkan rencananya kita juga akan menggandeng kalangan insan perhotelan dan biro perjalanan wisata untuk bisa mengembangkan dan ikut mempromosikan budaya sehat slow food kepada masyarakat luar,” tutur salah satu anggota Komunitas Slow Food Jogja, Dian Purnomo.

Menyenangkan
Apa sih slow food? Seorang aktivis slow food menuliskan di blognya di http:/listiaji.wordpress.com, bahwa slow food pada dasarnya adalah memasak makanan yang sesungguhnya, yang dikerjakan dengan santai dan menyenangkan.

Lebih ekstrim lagi, slow food mengajak kita untuk melakukan kegiatan makan dan memasak menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan dan dapat membawa kita menjadi relaks. Tentu suasana yang relaks akan mendorong fungsi pencernaan manusia untuk mengolah makanan dengan baik dan sehat.

Sementara bahan makanan juga dibiarkan tumbuh alami disediakan oleh alam. Karena masih sangat baru untuk kalangan di Indonesia [tapi tidak untuk di luar negeri terutama di Italia], masih belum banyak yang mengerti hakikat budaya ini.

Dian, menjelaskan, sesuai dengan namanya maka gerakan slow food ini jelas untuk melawan budaya fast food [dimasak serba cepat dengan menggunakan frozen food] yang sudah menjamur di kalangan masyarakat tanpa mengenal batasan usia dan status ekonomi.

Di dalam gerakan slow food ini, masyarakat kembali diajarkan untuk menghargai diri sendiri melalui perlindungan terhadap cara-cara kita dalam menikmati sebuah makanan secara benar. Dengan berpedoman pada prinsip good, clean and fair food.

“Jadi kita tahu apa yang kita masukkan ke dalam perut. Baik dari proses, bahan dan cara pengolahan yang dilakukan,” tutur Dian yang bekerja sebagai Program Director di FeMale Radio Jogja. Melalui slow food, lanjut Dian, juga diajarkan tentang cita rasa dan teknik memproduksi makanan yang baik.

Dan hal yang menarik dari Slow Food Jogja adalah anggota melakukan eksplorasi pengolahan makanan yang dilakukan adalah penganan dari bahan lokal, seperti, kentang, ubi ungu, sukun, tepung singkong, tepung pisang uter dan sejumlah bahan makanan tradisional lainnya.

“Bergabung dengan slow food bukan hanya membuat badan sehat dengan makanan yang terjamin kandungan gizinya. Tapi juga bisa dijadikan sarana untuk mendukung promosi penganan-penganan lokal,” tutur Dian.

Menu slow food
Meski belum semua bahan makanan tradisional diolah dan dimanfaatkan menjadi bermacam menu slow food oleh komunitas ini, paling tidak variasi jajanan sehat ala slow food tersebut telah banyak diproduksi dan dipasarkan di sejumlah pasar tradisional, warung jajanan bahkan restoran sehat.

Diantaranya, kue putu ayu dari bahan tepung gaplek, klepon ubi ungu, sus dari tepung pisang uter dengan vla terbuat dari tepung ganyong. Begitu juga risoles dari tepung sukun (dibuat untuk kulit risoles), cake dari tepung pisang uter, cookies dari tepung sukun dan tepung pisang uter.

Penganan-penganan itu tidak kalah nikmat dan cantiknya, dihidangkan di atas meja. Dari paparan Dian Purnomo nyatalah bahwa gerakan slow food bisa menjadi gerakan budaya, bukan hanya untuk ‘melawan’ fast food, namun menumbuhkan penghargaan kepada proses, dan artinya menghargai kebersamaan dalam keluarga.

Ini bisa kita bayangkan dalam satu kesempatan, saat suami dan anak-anak duduk di meja makan, sambil menunggu sang ibu meracik sayurmayur untuk memasang oseng-oseng dan sup untuk mereka. Dari aromanya sudah terbayang kelezatannya, dari dari kebersamaan sudah terbayang keharmonisan keluarga tersebut. Hmmm... (upi)

KOMENTAR PEMBACA

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar