Kemerdekaan pers & restorasi kebangsaan...
Minggu, 07 Februari 2010 10:13:10

Sejak 2 Februari, Palembang, Sumatera Selatan, dihadiri hampir 2.000 wartawan dari seluruh Indonesia, untuk memarakkan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) dan Peringatan Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2010.

Kota yang dulu menjadi pusat keramaian sejak zaman Kerajaan Sriwijaya itu seperti bergairah lagi, sekaligus menjadi ajang pemanasan pelaksanaa SEA Games 2011 yang bakal dibuka (dan sebagian besar) dilaksanakan di sini.

Apa Porwanas bisa melahirkan prestasi? Itu pertanyaan salah seorang pemandu kontingen peserta. Juga dipertanyakan beberapa warga Wong Kito…Kenapa wartawan gendut bertarung di olahraga? Tentu untuk berprestasi tidak, karena menjalankan profesi wartawan  yang serius cukup menguras tenaga, pikiran, dan waktu…, jelas tak mungkin menjadi atlet olahraga prestasi.

Atlet serius dan memang untuk berprestasi saja jarang yang bisa menjadi kampiun di tingkat Asia Tenggara.

Ruang silaturahmi
Setidaknya di forum ini, adalah ruang silaturahmi bagi kalangan praktisi jurnalistik, untuk mengukuhkan pemahaman bahwa negeri ini amat majemuk dan kaya akan budaya luar biasa…

Atlet wartawan dari PWI Aceh sampai PWI Papua, termasuk PWI DI Yogyakarta, Jawa Tengah dan PWI Cabang Khusus Solo, adu kemampuan yang tentu relatif pas-pasan…Tapi di sana, pasca pertandingan, mereka bergaul akrab dan saling tukar pengalaman atau saling berbagi kisah keberhasilan masing-masing daerah.

“Dengan saling bertemu di antara wartawannya, Insya Allah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila dan UUD 1945 masih bisa terus dijaga…”kata Djijoto, Kepsta RRI Papua.

Keberadaaan PWI suka-tak suka, menurut lelaki asal Wonogiri ini, hakekatnya bisa menjadi penjaga keutuhan NKRI…PWI harus tetap menjadi penjaganya, dan forum-forum pertemuan seperti di Palembang menjadi pengingat bahwa negeri ini amat majemuk yang tetap satu, Bhineka Tunggal Ika.

Isu primitif
“Silaturahmi antarwartawan penting,” kata Ketua Umum PWI Pusat Margiono, sehingga terjadi dialog terkait persoalan daerah, sehingga muncul formulasi alternatif  untuk mengatasinya.

Di samping itu, katanya, melalui olahrga yang rutin, bukan semata karena Porwanas, bisa mendorong terwujudnya insan pers yang sehat jasmani dan rohani, men sana in corpore sano,  yang dipastikan berguna dalam menjalankan profesinya…

Sejumlah wartawan senior memprihatinkan situasi politik nasional dan lokal belakangan ini—yang selalu menjadikan isu primitif, seperti SARA, sebagai cara untuk menggolkan tujuan jangka pendek mereka.

Bahkan untuk sekadar upeti, ada elit yang tega menakut-nakuti kelompok tertentu. Bahkan ada elit yang main-main dengan isu primitif untuk bikin chaos, demi agenda tertentu…Kerusuhan adalah bisnis yang menghadirkan uang dan pelbagi kesempatan—untuk kalangan tertentu…Ini jelas-jelas membahayakan bangsa ini. Memprihatinkan…

Pers daerah dan nasional harus mampu menjadi pengigat dini adanya ancaman bahaya ini, dan berani mengingatkan pentingnya rasa kebersamaan dalam perbedaan. Pers mutlak harus berani mengkritik elit-elit konyol semacam ini. Lembaga ini perlu mewaspadai kekuatan-kekuatan tertentu yang memanfaatkan elit semacam itu untuk tujuan-tujuan jangka pendek…

Tak sektarian
Pers pun harus terbebas dari pengelola yang sektarian dan tak memahami risiko dan potensi bangsa ini. Pers harus mengingatkan publik akan bahaya laten ini karena kita punya pengalaman buruk di Solo, Poso dan kerusuhan etnis di Kalimantan. Semuanya mengancam keutuhan bangsa.

Oleh karena itu keberadaan pers seyogianya  mendorong publik untuk menguatkan potensi dan jati diri bangsa ini, berpikir terbuka, suka gotong-royong, toleran, cinta damai dan lebih mengutamakan dialog dalam mengatasi persoalan! Sikap dasar dan perilaku luhur itu kini sudah terkikis.

Kemerdekaan pers yang mampu diraih hakekanya tak akan ada gunanya, bila puncaknya tak memberikan manfaat dan nilai bagi rakyat, bangsa dan NKRI…Kemerdekaan pers bukan untuk menakut-nakuti rakyat, bukan pula  untuk kepentingan sesaat pengelolanya melalui cara-cara tak bermartabat, melainkan punya manfaat ideal demi kepentingan bersama menuju kehidupan lebih beradab dan bermartabat…

Restorasi di segala bidang, termasuk dunia pers dan kebangsaan, sungguh-sungguh perlu dilakukan!

YA Sunyoto
Wartawan HARIAN JOGJA

KOMENTAR PEMBACA

*)

*)



*)
sisa

*)   





   Yang bertanda *) harus di isi dengan benar